Minggu, 21 Oktober 2012

Ambil Keputusan Terbaik

Ibrani 3:7-19

Ada sebuah kitah tentang seorang sarjana yang punya hobi mempelajari kehidupan burung-burung, terutama mengumpulkan berbagai macam telur burung. Ia pergi ke Rocky Mountains, pegunungan terkenal di perbatasan Amerika dan Kanada. Kemudian ia mulai duduk dan mengamat-amati cakrawala dengan teropongnya. Ketika ia mengarahkan teropongnya ke tebing tinggi yang menj

ulang ke puncak gunung, perhatiannya tertuju kepada sejenis burung yang sampai saat itu senantiasa menghindarinya. Ia melihat burung itu terbang berputar-putar lalu membubung ke atas menuju sebuah gua yang berada di tengah-tengah tebing itu. Maka, ia segera merencanakan suatu cara mencapai gua itu. Rupanya cara terbaik ialah turun dari atas tebing itu dengan memakai tali. Setelah ia sampai di atas puncak tebing, ia turun dengan tali. Ia tergantung dan tubuhnya terayun-ayun di depan gua itu. Setelah berhasil menginjakkan kakinya di mulut gua, ia melepaskan tali dari tubuhnya dan mengikatkannya pada sebuah batu. Namun baru saja ia melangkah, tiba-tiba terdengarlah suara, "Ssseett." Tali itu terlepas dari ikatannya! Tampak olehnya tali itu mengayun-ayun di atas jurang. Ia sadar bahwa ia sedang dalam bahaya, karena tanpa tali ia tidak bisa kembali. Posisi tali kadang menjauh kadang mendekat dari dirinya. Ia tahu kalau tali berhenti berayun, maka posisinya akan menjauh dari dirinya, karena memang posisi gua agak menjorok ke dalam. Maka, ia pun memutuskan untuk melompat dan berusaha menangkap tali itu selagi mengayun ke arahnya. Ia berhasil, walau sebenarnya tindakannya itu penuh risiko. Seandainya dia menunda-nunda keputusan itu, pasti ia berada dalam kesulitan besar.

Seringkali dalam hidup ini kita diperhadapkan pada pengambilan keputusan yang sangat penting. Yang diperlukan pada saat seperti itu adalah ketetapan hati untuk bisa mengambil keputusan yang terbaik, tanpa menunda-nunda. Jika tidak, akibatnya fatal. Hal itu bisa kita lihat dalam kehidupan bangsa Israel, ketika mereka berada dalam perjalanan dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Mereka selalu bersungut-sungut dan memberontak kepada Tuhan. Mereka tidak mengambil keputusan yang terbaik, yaitu memberi telinga untuk mendengar perintah Tuhan dan menaatinya. Mereka malah mengeraskan hati. Akibatnya, mereka yang umurnya di atas 20 tahun saat keluar dari Mesir, mati di padang gurun, kecuali Kaleb dan Yosua.

Selagi ada kesempatan, hendaklah kita selalu mengambil keputusan yang terbaik dalam hidup ini. Terutama yang berkaitan dengan masalah kehidupan rohani kita. Jika kita mendengar suara Roh Kudus, baik lewat Alkitab yang kita baca ataupun lewat firman yang kita dengar dari hamba-Nya, maka janganlah kita mengeraskan hati. Hendaklah kita senantiasa menaati suara Roh Kudus yang memimpin kita kepada kehidupan yang benar dan bermanfaat.

"Jangan menunda-nunda keputusan untuk mendengar dan menaati suara Roh Kudus agar hidupmu baik adanya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar