Rabu, 03 Juli 2013

MATA RANTAI KEBAIKAN

Baca: Pengkhotbah 11:1-8

Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu ( Pengkhotbah 11:1).

Sudah cukup lama seorang nenek melambai tangan dipinggir jalan,di sebuah malam yang hujan. Akhirnya, seorang pria mau berhenti. Si nenek meminta tolong agar pria tadi memperbaiki mobilnya yang mogok.

Sejam berlalu dan mobil itu siap dipakai lagi. Merasa sangat berterima kasih, si nenek hendak memberi sejumlah uang. Akan tetapi, pria itu menolak. Katanya, ”Jika Ibu ingin berterima kasih, berikanlah kebaikan kepada orang lain yang Ibu temui sambil mengingat pertemuan kita ini.”

Lalu, mereka berpisah.

Dua ayat pertama dari Pengkhotbah 11 mengungkap tentang menabur kebaikan. Hal yang perlu dilakukan kepada sebanyak mungkin pihak, agar sementara waktu berjalan, kebaikan itu terus ”mengalir”. Pula, ada kalanya kebaikan itu bisa ”kembali” kepada kita yang sudah memulainya. Bisa segera terjadi, atau lama sesudah kita menabur kebaikan tersebut.

Maksudnya tentu bukan supaya kita melakukan kebaikan sambil mengharapkan pahala. Pengkhotbah berpesan bahwa justru karena kita tidak tahu apa yang bakal terjadi, kita tidak boleh menunda berbuat kebaikan. Teruslah menabur kebaikan dengan rajin (ayat 4.6). Biarlah kebaikan itu terus tersalur seperti mata rantai.

Mewarnai dunia dengan kasih. Pria dalam kisahh di atas akhirnya mendapat manfaat yang kembali pada dirinya, setelah menunjukkan kebaikan kepada di nenek. Suatu hari, karena tergerak oleh belas kasih si nenek memberi uang kepada seorang pelayan restoran yang sedang hamil. Beserta catatan kecil,

”Aku telah menerima kebaikan pada suatu malam yang hujan.”

Dan, perempuan hamil itu adalah istri pria tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar